"Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya".. ==> “Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin. Negeri yang miskin ternak, tidak pernah kaya”. -Pepatah Arab-(dalam Campbell dan Lasley, 1985.<==

Sapi

Sapi ternak adalah hewan ternak anggota familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, dan tanduknya juga kemudian dimanfaatkan. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai untuk membantu bercocok tanam, seperti menarik gerobak atau bajak.

Kerbau

Kerbau adalah binatang memamak biah yang masih termasuk dalam subkeluarga bovinae. Kerbau liar atau disebut juga Arni masih dapat ditemukan di daerah-daerah Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand. Penjinakan kerbau sangatlah umum di Asia, Amerika selatan, Afrika utara, dan Eropa.

Kambing

Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "Bulan sabit yang subur" dan Turki) dan Eropa. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar.

Domba

Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop.

Kuda

Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun.

Showing posts with label Hewan Endemik Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Hewan Endemik Sulawesi. Show all posts

Tantangan dan Upaya Konservasi Anoa



Info Peternakan. Anoa sebagai satwa endemik yang tergolong langka dan dikhawatirkan akan punah mempunyai nilai tinggi dari aspek konservasi, baik konservasi jenis maupun konservasi habitatnya. Dalam kondisi sekarang habitat anoa sudah terdesak oleh berbagai kebutuhan lahan seiring dengan pembangunan dan perkembangan wilayah, seperti perkembangan desa dikawasan hutan dan kawasan konservasi bukan saja berdampak pada semakin terbatasnya sebaran dan pergerakan satwa liar terhadap aktivitas perburuan (Bismark, 1994)


Dalam rangka penyelematan anoa endemik Pulau Sulawesi, saat ini sekurang-kurangnya telah dibentuk 23 kawasan  konservasi yang terdiri atas  7 kawasan di Sulawesi Utara, 6 kawasan di Sulawesi Tengah, 2 kawasan di Sulawesi Selatan dan 8 di kawasan Sulawesi Tenggara (Manansang, dkk. (1996).

Guna memaksimumkan peran kawasan konservasi sebagai kawasan pelestarian keanekaragaman sumberdaya hayati, maka kawasan tersebut perlu dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, misalnya lokasi pengintaian dan peralatannya, peralataan pendugaan populasi, senjata bius untuk pengambilan  sample atau sejenisnya (keperluan analisis laboratorium), peralatan untuk kemungkinan dilukakannya penangkaran pada area tertentu di dalam  kawasan konservasi.  Selain itu perlu penyiapan sumber daya manusia professional untuk mengelolah kawasan perlindungan anoa, termasuk melakukan pembinaan kepada masyarakat  agar peduli dan memilki rasa tanggung jawab penuh dalam mempertahankankeanekaragaman sumber daya hayati anoa.

            Langkah-langkah penyelamatan anoa yang masih hidup  di dalam habitatnya  :

  • Potensi anoa liar dengan jalan menerapkan secara tegas semua perangkat hukum yang berkaitan dengan penangkapan anoa (hidup atau mati) atau pengambilan hasil hutan didalam kawasan konservasi.  Penerapan hokum ini harus diberlakukan secara umum, tanpa memperhatikan latar belakang atau predikat pelaku, termasuk aparat penegak hukum dan petugas pada kawasan lindung itu sendiri.
  • Penentuan habitat-habitat yang disenangi disetiap kawasan, termasuk juga menganalisis jenis-jenis tumbuhan yang disukai anoa. Informasi ini dapat diajadikan dasar dalam rangka manajemen anoa di penangkaran, atau dalam upaya untuk memulihkan kembali habitat anoa yang mengalami kerusakan.
  • Pengamatan tingkah laku makan dan reproduksi. Pengamatan ini sedapat mungkin didokumentasikan baik berupa foto maupun rekaman video. Data tingkah laku tersebut akan dimanfaatkan untuk mempelajari teknologi budidaya anoa secara kemersial.
  • Koleksi dan analisa sampel darah, rambut atau bagian tumbuh anoa lain untuk keperluan analisis genetik dan biologisnya. Jika memungkinkan dilakukan pengamatan pertumbuhan anoa yang hidup liar.
  • Penyitaan terhadap anoa atau bagian tubuh lainnya yang dimiliki oleh pemburu liar atau masyarakat lainnya.
  • Pembinaan kepada masyarakat, terutama yang bermukim disekitar daerah kawasan konservasi untuk bersama-sama berpartisipasi mengelola dan mempertahankan keanekaragaman sumberdaya hayati kita, terutama anoa yang statusnya sangat rawan terhadap ancaman kepunahan.
  • Di dalam kawasan konservasi diupayakan dibuat semacam holding ground untuk kebutuhan satu pasang anoa ditambah dengan anak-anaknya. Holding ground ini sedapat mungkin terdapat jenis-jenis tanaman yang palatabel bagi satwa anoa. Tempat ini berfungsi untuk memudahkan pengamatan tingkah laku dan laju pertumbuhan anoa, dan merupakan bagian dari upaya pengakaran anoa.


Beberapa informasi penting yang perlu tersedia untuk mendukung upaya pelestarian anoa antara lain dari segi reproduksi dan pemuliaan, misalnya menyangkat teknik penampungan semen dan koleksi telur melalui ovarium. Informasi tersebut bermanfaat untuk tujuan inseminasi buatan dan kemungkinan dilaklukan program cloning embrio tanpa melalui pembuatan atau perkawinan alami. Penentuan siklus birahi, lama estrus dan waktu yang tepat untuk kawin/IB akan meningkatkan keberhasilan program  inseminasi buatan.  Dari aspek pakan perlu  identifikasi  secara tepat mengenai jenis hijauan yang disenangi. Kuantitas dan kualitas pakan serta kombinasi hijauan dan konsentral yang dibutuhkan. Untuk tujuan produksi daging bagi calon ternal anoa dimasa yang akan datang perlu dipelajari mengenai bobot lahir, laju pertumbuhan bobot sapih serta komposisi dan kualitas.

Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Faktor-faktor Yang Mengancam Kelestarian Anoa



Info Peternakan. Pada dasarnya faktor yang sangat signifikan mengancam upaya pelestarian satwa anoa adalah adanya aktivitas manusia dengan segala bentuknya baik secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar bahkan segaja atau tidak sengaja, telah mengakibatkan satwa anoa berada pada ambang kepunahan. Manansang, dkk. (1996) mengatakan juga bahwa faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah kejadian bencana alam seperti kebakaran hutan, gunung meletus, bahaya banjir atau angin topan. 
Beberapa faktor yang dapat mengancam kepunahan anoa, sebagai berikut :
1)      Pemburu Liar (Hunting) dan Perdagangan Anoa Ilegal


Kegiatan perburuan liar terhadap satwa anoa, menurut Manansang, dkk.  (1996) merupakan penyebab utama dan secara langsung mengakibatkan turunnya populasi anoa.  Para pemburu liar anoa ini umumnya di dorong keinginan untuk memperoleh daging, dalam kasus-kasus tertentu para pemburu liar juga juga menjual hasil buruannya berupa tengkorak dan auat tanduk.  Pada tahun 1970-an pernah dilaporkan adanya sepasang anoa yang dijual hidup untuk diselundupkan ke luar negeri dengan harga US$ 3.000,- per ekor.Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa pada tahun 1970-an pernah ada kasus penjualan anoa hidup yang akan diselundupkan ke luar negeri.  Harga satu ekor anoa saat itu mencapai US$ 3.000, jika digunakan kurs dollar Rp. 7.500,- maka harga seekor anoa hidup benilai Rp. 22.500.000,-.  Bagi mereka yang perhatiannya kurang terhadap upaya penyelamatan keanekaragaman sumber daya hayati, harga yang ditawarkan diatas akan men jadi motofasi dan memberikan semangat yang besar untuk menangkap anoa.  Manansang, dkk. (1996) mengatakan bahwa pada toko-toko cendra mata di daerah Rantepao dan Makale Kabupaten Tanah Toraja sering pula dijual  bagian tubuh anoa, seperti tanduk dan auat tengkorak, tetapi bagian tubuh anoa tersebut kurang laku, meskipun ditawarkan dengan harga yang cukup murah. Wisatawan yang kebanyakan berasal dari mancanegara tersebut kurang tertarik dengan cendra mata dari bagian tubuh anoa. Kenyataan ini tidak mengherankan mengingat pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap keanekaragaman sumber daya hayati sangat tinggi.
2)      Kerusakan/Kehilangan Habitat yang Sesuai
Hilangnya/rusaknya habitat yang sesuai untuk kehidupan anoa di dalam kawasan hutan lindung, selain disebabkan oleh perluasan areal pertanianm, juga banyak diakibatkan oleh adanya kegiatan di sector pertambangan, dan eksploitasi hutan (khususnya penebangan kayu).  Kondisi ini diperparah lagi dengan masih adanya petani yang terbiasa hidup dengan cara perladangan  berpindah, dimana  mereka menebang  dan membakar hutan kemudian ditanami sebagian kecil dari hutan yang ditebang sebanyak 3 - 4 kali musim tanam, dan selanjutnya ditinggalkan untuk membuka lahan yang lain.  Apabila pemerintah tidak menindak lanjuti, dikhawatirkan satwa langka ini akan berubah status terancam punah menjadi status pernah ada.
3)      Penyakit
Adanya serangan penyakit (terutama penyakit menular) menjadi     salah satu faktor yang dapat menurunkan populasi kedua spesies anoa  (Grzimek, 1990 dalam Manansang, dkk. (1996).  Sementara itu adanya ternak domestik, bahkan introduksi rusa ke dalam populasi anoa dapat menimbulkan resiko menularnya berbagai penyakit pada anoa.  Jenis penyakit yang sering diderita oleh ternbak sapi dan kerbau, ditemukan juga pada satwa anoa yang ditangkarkan, penyakit tersebut antara lain  disebabkan oleh virus  misalnya Akabane viral abortion yang ditularkan memalui gigitan nyamuk, penyakit yang disebabkan oleh bakteri, seperti Tuberculosis, Streptococcus dan  Brucellosis, penyakit yang disebabkan oleh parasit seperti Strongilus, Ticks dan Ascaris, serta penyakit yang disebabkan oleh jamur seperti Aspergillus.
Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Penyebaran Populasi Anoa


Info Peternakan.  Menurut Odum (1971) populasi adalah kumpulan mahkluk hidup yang berspesies sama atau memiliki kesamaan genetik dan secara bersama-sama mendiami tempat tertentu dan dalam waktu yang sama pula.


Penyebaran populasi dari spesies anoa (Bubalus depressicornis), menurut Gunawan 1996 di Sulawesi Utara meliputi taman nasional Dumoga Bone,  Minahasa, Gorontalo, Boolang  Mangondo ; di Sulawesi Tengah tersebar  di daerah Donggala, Toli-toli, Taman Nasional Lore lindu, Cagar Alam Lore Kalamanta dan Morowali ; di Sulawesi Selatan terdapat di Luwu, Mammuju dan Enrekang, sementara di Sulawesi Tenggara dijumpai pada wilayah Suaka Marga Satwa Tangjung Amolengo, di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, dan juga terdapat di Kabupaten Kolaka. 
Tabel 2. Taksiran Populasi Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) Berdasarkan Perhitungan Jejak di Taman Nasional Rawa Anoa Watumohai, Februari 1995. 
No
Kompleks hutan yang dihuni
Luas areal Kompleks Hutan (Ha)
Luas plot sensus (Km2)
Jumlah Jejak ditemukan (individu)
Taksiran kepadatan (individu/Km2)
Taksiran populasi disetiap kompleks hutan (individu/Km2)
1.
Lahalo
2.700
12,57
14
0,5568
15,03
2.
Laea
2.700
18,10
16
0,4419
11,93
3
Mando Mandola
2.080
8,05
5
0,3107
6,46
4
Lanowolu
2.400
8,05
7
0,4350
10,44
5
Lalembo
1.600
10,18
8
0,3928
6,29
6
Roraya
4.000
24,46
22
0,4464
17,86
Jumlah
14.480

73
Rata-rata 0,4306
± 0,0802
Total Populasi
68,01 ± 4,62
Sumber : Gunawan dan Tikupadang (1997)

Dari hasil perhitungan individu melalui jejak diketahui bahwa populasi  Anoa dataran rendah di 6 kompleks hutan yang diteliti berjumlah antara 36 – 73 ekor dengan kerapatan individu rata-rata 0,35 sampai 0,51 per km2 atau kira-kira 5 individu per 10 km2.

Jumlah populasi tersebut termasuk tinggi jika dibandingkan dengan populasi anoa pegunungan  di Cagar Alam Faruhumpenei yang berkisar antara 0,0028 – 0,01 individu per 10 km2 atau 0,028 – 1,0 individu per 100 km2 (Tikupadang et al, 1994)  dan populasi anoa dataran tinggi di Hutan Lindung Kambuno Karena yaitu 0, 0076 – 0,0184 individu per 10 km2 atau 0,76 – 1,84 individu per100 km2 (Tikupadang et al, 1996)
Tingginya populasi  anoa dataran rendah, selain di pengaruhi oleh tersedianya komponen habitat yang dibu tuhkan untuk sumber pakan, perlindungan dan areal tempat bermain dan kawin juga tidak adanya predator mamalia besar selain dari aktivitas perburuan, kemungkinan yang menjadi predator adalah buaya. Yang hidup di sungai-sungai hutan bakau.  Anoa dataran rendah yang hidup di savanna dan di rawa, habitat yang relative terbuka mungkin lebih mudah di buru.  Oleh sebab itu, anoa dataran rendah mengembangkan sistem sosial yang berkelompok, berbeda dengan anoa dataran tinggi yang hidup di hutan primer  dengan vegetasi rapat  dalam system yang lebih bersifat soliter (Tikupadang, 1994).  Adaptasi anoa dataran rendah dalam menghindari dalam menghindari perburuan adalah mengunjungi areal terbuka dsalam 3 – 7 hari.  Perilaku dalam menghindari  kemungkinan perburuan lainnya adalah anoa akan berpindah-pindah lokasi tiduir setiap hati  (Tikupadang, 1994).

Berdasarkan data yang diperoleh terhadap ukuran  dan pola jejak, dapat dikenali beberapa anak anoa yang masih diasuh oleh induknya yaitu di kompleks hutan Lahalo satu ekor, Leae dua ekor dan Roraya empat ekor.  Pada kasus tersebut selalu ditemukan dua macam jejak yaitu yang berukuran besar dan kecil dengan  pola beriringan atau berdampingan, dengan demikian diketahui bahwa anoa dataran rendah hidup secara berkelompok pada masa mengasuh anak. Setelah dewasa dan mampu mandiri anak anoa akan meninggalkan induknya, selanjutnya anak dan induk  tersebut hidup secara soliter  sampai menemukan pasangannya untuk kawin. Bismark dan Gunawan (1996), melaporkan  bahwa berdasarkan aktivitas hariannya individu dewasa dan remaja lebih bersifat  soliter dalam mencari makan  sedangkan yang berpasangan besar kemungkinan terjadi pada saat betina birahi .

Kelompok jejak yang terdiri dari dua macam ukuran dengan pola beriringan atau berdampingan, menunjukkan bahwa jumlah anak  pada setiap kelahiran (pada kasus di Taman Nasioal Rawa Aopa Watumohai ) adalah satu ekor.  Pada penelitian yang dilakukan oleh  Tikupadang dan Gunawan (1994) ditemukan tujuh ekor anak anoa yang masih diasuh induknya.  Persentase kelas umur yang didasarkan pada ukuran jejak dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Persentase Kelas Umur Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis)  di 6 Lokasi Pengamatan di Taman Nasional Rawa Aopa Warumohai.
Kelas Umur
Ukuran Jejak
Persentase
Anak
< 6,0 cm
10,2
Remaja
6,0 – 7,5 cm
30,9
Dewasa
> 7,5 cm
58,9
Jumlah (Total)
100,0
Sumber : Gunawan dan Tikupadang (1997)
Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Komponen habitat Anoa

Info Peternakan.  Hutan primer di Sulawesi merupakan habitat utama anoa. Anoa dataran rendah umumnya menghuni hutan dataran rendah (ketinggian 0-700 mdpl) sedangkan anoa dataran tinggi/pegunungan menghuni pegunungan.

Menurut Bismark dan Gunawan (1996) anoa mempunyai habitat yang spesifik dengan komponen dan sebaran lokasi yang dapat menunjang kebutuhan pakan       dan perilakunya komponen habitat anoa terdiri dari hutan  bakau  yang  relatife  tidak berlumpur, hutan peralihan antara hutan bakau dan savanna yang tidak terpengaruh oleh pasang surut, padang rumput dan rawa, kelompok-kelopok hutan diantara padang rumput dan lapangan tanpa vegetasi.  Aktivitas anoa lebih terkonsentrasi pada hutan bakau yang berbatasan dengan savanna yang berada 300m dari sungai.

Tanda – tanda keberadaan anoa berupa jejak, feses, dan bekas gigitan paling banyak ditemukan di hutan mangrove. Ini menunjukkan sebagian besar aktivitas hariannya dilakukan dihutan mangrove.  Hutan mangrove digunakan anoa untuk mencari makan, tempat beristirahat dan menggaram.  Menurut Bismark dan Gunawan (1996) hutan bakau yang lebih disukai anoa sebagai habitatanya adalah yang dilalui oleh sungai dan areal terbuka dengan tanah berpasir yang berdekatan dengan hutan mangrove sehingga sebagaian digenangi air pasang dan sebagian digunakan sebagai tempat minum dan menggaram bagi anoa.

Di Savana juga di temukan  jejak dan feses. Kedua tanda ini membuktikan bahwa savanna merupakan bagian habitat yang selalu dikunjungi baik sebagai tempat mencari makan maupun sebagai tempat lintasan satwa tersebut.  Menurut Bismark dan Gunawan (1996) bahwa tempat mencari makan tersebar dibeberapa tempat disavana, sebaran tempat mencari makan ini hingga 250 meter dari tepi hutan bakau atau dari tempat beristirahat satwa tersebut sedangkan areal yang termasuk daerah jelajahnya yang ditandai dengan jejak anoa ditemukan terjauh dari hutan bakau, yaitu antara 500 – 875 meter.

Bismark dan Gunawan (1996) juga menemukan anoa mendatangi rawa untuk minum (air tawar) dan makan.  Sumber air pada habitat herbivora penting karena selain sebagai sumber air minum juga sebagai sumber nitrogen untuk komponen pakan tumbuhan yang berasal dari jenis ganggang.  Peranan sumber air tergenang bagi satwa herbivore sangat penting pada musim dimana kondisi rumput yang sumber pakannya yang mengalami penuruan nilai gizi (Ghose et al., 1987  dalam Bismark dan Gunawan, 1996).

Penyusun : Popalayah, S.Pt
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Ketersediaan Pakan Satwa Anoa

Info Peternakan.  Tikupadang, dkk.  (1995) dalam penelitiannya mengatakan bahwa ada tiga jenis vegetasi hutan yang dapat diandalkan sebagai nutrisi pokok satwa anoa yaitu 3 jenis vegetasi sumber protein, 3 jenis vegetasi sumber nutrisi lemak dan ada 6 jenis vegetasi  sebagai sumber karbohidrat atau serat kasar.  Beberapa  jenis-jenis vegetasi hutan yang dapat menjadi sumber protein ada tiga yaitu  Batea Kerui (Xylocarpus granatum Koent) dengan kandungan protein kasar 22,95%; Maeja (Antocephalus cadamba Richi) dengan kandungan protein kasar 24,95% dan Kangkung (Ipomoea aquatica Fordk) dengan kandungan protein kasar 24,26%. 

Dikatakan juga bahwa vegetasi sebagai sumber lemak kasar anoa di habitatnya terdapat tiga vegetasi yaitu;  Kalambuto (Ervatania sphaerocarpha Burkill) kandungan lemak kasar 14,29% serta Ubi kayu (Manihot utilisima Polh) dengan kandungan lemak kasar cukup tinggi  yaitu 15,43%.
Pada kondisi penangkaran, Kasim (1998) melaporkan jenis-jenis tanaman yang dapat dimakan oleh hewan anoa meliputi 11 jenis yaitu Kangkung, Sayur bayam, Daun ubi jalar, Ubi, daun kumis kucing, buah Pisang, Kedondong, Mangga, Nangka, Rerumputan dan Daun cabe.  Pada hewan anoa dataran rendah, nilai nutrisi pakan sedikit lebih rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Mustari (1995) bahwa vegetasi pakan anoa pada dataran rendah, relative lebih rendah, yaitu rata-rata untuk kandungan protein kasar 10,67%, Serat kasar 31,37%, Abu 9,76%, Ca 0,43%, P 0,20% dan kandungan Energi  3847 Kcal.

Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Hubungan Antara Pertumbuhan dan Nutrisi Pakan Anoa

Info Peternakan.  Diskripsi umum terhadap ruang domisili Anoa di alam atau pada lingkungan habitatnya, merupakan salah salah satu bagian terpenting untuk diketahui, karena berhubungan erat dengan gizi anoa dalam rangka mempertahankan populasinya. Komponen utama habitat adalah struktur dan komposisi vegetasi pohon, struktur dan vegetasi anakan pepohonan, struktur dan vegetasi tumbuhan bawah dan tingkat kerapatan tajuk semak pada lantai hutan (Tarumingkeng, 1994).  Faktor-faktor tersebut mempunyai kaitan erat dengan fluktuasi populasi maupun dengan aktivitas reproduksi (perkembangbiakan). Pada kondisi lingkungan (habitatnya), ada ciri khas, sehingga memungkinkan terciptanya suhu lingkungan ideal (suhu 20,3 °C – 22,9 ºC) dengan kelembaban (92% - 94%) untuk perkembangbiakan satwa tersebut.  Hutan-hutan dataran rendah yang dihuni oleh Hewan Bubalus depressicornis umumnya kisaran suhu antara 15 – 33 °C dengan kelembaban rataan 83% (Syam, 1977; Bismark dan Gunawan, 1996).   Sementara pada Bubalus quarlesi biasanya menghuni hutan-hutan dataran tinggi dengan kisaran suhu antara 19,5 – 29,9 ºC serta kelembaban antara 92 – 94% (Tikupadang dan Gunawan, 1996).
Vegetasi dengan kelembaban tinggi erat hubunganya dengan ketersediaan pakan, menurut Tikupadang, dkk. (1996) bahwa vegetasi pakan anoa ditemukan pada areal yang memiliki kelembaban tinggi dan tidak jauh dari sumber air, seperti dijumpai di sepanjang aliran sungai.  Jenis vegetasi yang merupakan komponen pakan utama anoa adalah jenis lumut, paku-pakuan dan tumbuhan herba yang di dominasi dengan daun-daunan.
Menurut Syam (1977), Anoa dalam memenuhi keperluan hidupnya akan mencari makannya pada 3 areal vegetasi, yaitu hutan hujan tropis, areal kawah gunung dan hutan sekunder.   Pada hutan tropis, Anoa banyak memanfaatkan buah-buah dari pepohonan yang jatuh sebagai makanannya.  Demikian pula pola jelajah Anoa, ada hubungannya dengan kegiatan mencari makan, minum, dan berlindung.  Anoa keluar dari tempat istirahatnya dengan sasaran menuju tempat makan, kemudian kembali ke temapt istirahatnya tidak melalui jalur semula.
Anoa memakan daun dan pucuk dari berbagai jenis tumbuhan seperti herba, semak, lumut dan jenis rumput yang tumbuh di hutan.  Komposisi makanan anoa didominasi oleh berbagai jenis herba dan semak.  Anoa juga memakan buah-buahan yang jatuh dari pohon,buah beringin dan juga umbi hutan.  Anoa sebagai satwa pemakan rumput (herbivora) dan memamah biak (Ruminansia) membutuhkan mineral untuk membantu metabolisme/ pencernaan seperti minum air laut atau air yang berkadar garam cukup tinggi dalam hutan (Tikupadang, dkk. 1996).

Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Mengenal Karakteristik Anoa


Info Peternakan.  Satwa anoa merupakan hewan endemik sulawesi dan termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi. Selain endemik, hewan ini juga dinyatakan menuju kepunahan. Anoa ini dikenal ada dua jenis yaitu anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) (Groves, 1969).
    
Anoa yang ditemukan pada dataran rendah umumnya  berwarna hitam dan  mempunyai postur tubuh yang besar sedangkan anoa pada dataran tinggi ukuran tubuhnya lebih kecil dan umumnya berwarna hitam kekuning-kuningan  atau berwarna krem.  Kasim (1997) melaporkan bahwa habitat anoa baik dataran tinggi (Bubalus quarlesi) maupun dataran rendah (Bubalus depressicornis) sudah tidak memilki habitat yang khas.  Kadang kala (Bubalus quarlesi) ditemukan pada daerah dataran rendah, sebaliknya (Bubalus depressicornis) dapat dijumpai padsa daerah pegunungan.  Postur tubuh satwa ini mirip kerbau dan secara umum ukuran tubuh anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) lebih besar dan mempunyai ekor lebih panjang, kaki putih dan tanduk yang kasar, sedangkan anoa dataran tinggi (Bubalus quarlesi) relatif lebih kecil, mempunyai ekor lebih pendek serta tanduk berbentuk kerucut dan rata.  Sementara bentuk kepala , menyerupai kepala sapi  dan tanduknya mengarah kebelakang. Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) mempunyai tinggi bahu berkisar 55 – 90 cm berat  badannya 150 – 200 kg, panjang kepala dan badan sekitar 160 – 172 cm.  Anoa dapat mencapai umur 25 tahun atau lebih.  Masa kebuntingan berkisar 276-315 hari, dan umumnya hanya beranak satu ekor dalam semusim. Anoa beranak antara bulan juli sampai oktober dan musim kawin terjadi pada bulan oktober sampai januari.
 
Tabel 1. Beberapa Parameter Tubuh dan Sifat Reproduksi Anoa
No
Ukuran/ bobot tubuh
Spesies Anoa
Bubalus depressicornis
Bubalus quarlesi
1
Tinggi pundak
80 – 100cm
75 cm
2
Panjang badan
170 – 188  cm
122 - 153 cm
3
Panjang tanduk jantan
27 – 37 cm
15 – 20 cm
4
Panjang tanduk betina
18 – 26 cm
15 – 20 cm
5
Bobot lahir
-
-
6
Bobot dewasa
100 – 150 kg
300 kg
7
Umur dewasa
2 – 3 tahun
2 – 3 tahun
8
Lama bunting
275 – 315 hari
275 – 315 hari
Sumber : Ganslo Ber et al. (1995); Groves (1969); dan Iskandar dan Santoso (1983).

Penyusun : Popalayah
Judul Makalah : Habitat dan Status Populasi Anoa
Di Presentasikan Pada Seminar Jurusan Universitas Hasanuddin Makassar

Popular Posts