"Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya".. ==> “Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin. Negeri yang miskin ternak, tidak pernah kaya”. -Pepatah Arab-(dalam Campbell dan Lasley, 1985.<==

Sapi

Sapi ternak adalah hewan ternak anggota familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Hasil sampingan, seperti kulit, jeroan, dan tanduknya juga kemudian dimanfaatkan. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai untuk membantu bercocok tanam, seperti menarik gerobak atau bajak.

Kerbau

Kerbau adalah binatang memamak biah yang masih termasuk dalam subkeluarga bovinae. Kerbau liar atau disebut juga Arni masih dapat ditemukan di daerah-daerah Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand. Penjinakan kerbau sangatlah umum di Asia, Amerika selatan, Afrika utara, dan Eropa.

Kambing

Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing ternak (Capra aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "Bulan sabit yang subur" dan Turki) dan Eropa. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar.

Domba

Domba atau biri-biri (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop.

Kuda

Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun.

Showing posts with label Berita Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Berita Peternakan. Show all posts

Kenali Istilah sains untuk produk babi

sumber gambar ; rumahsehatamanah.blogspot.com

Mungkin banyak umat Islam tidak tahu bahwa label-label yang bertulis 'This product contain substance from porcine.  Sebenarnya bermaksud 'Produk ini mengandungi bahan daripada babi. Selain itu, antara label yang kerap digunakan adalah 'The source of gelatin capsule is porcine' yang bermaksud 'Kapsul dari gelatin babi.

Berikut antara istilah sains yang digunakan dalam produk yang mengandungi unsur babi:

  1. Pork = Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.
  2. Swine = Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kumpulan spesis babi.
  3. Hog = Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.
  4. Boar = Babi liar.
  5. Lard = Lemak babi yang digunakan bagi membuat minyak masak dan sabun.
  6. Bacon = Daging hewan yang disalai, termasuk babi.
  7. Ham = Daging pada bagian paha babi.
  8. Sow = Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan).
  9. Sow Milk = Susu babi.
  10. Pig = Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya bermaksud babi muda, berat kurang daripada 50 kg.
  11. Porcine = Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam bidang perobatan untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Sebarkan kepada semua saudara-saudara kita agar lebih berhati-hati. Semoga Allah S.W.T akan membalas jasa baik anda dan semoga Allah memelihara kita di dunia dan di akhirat.

Sumber : FB Kata-kata Hikmah  

Sapi Hasil Inseminasi Buatan Lahir dengan berat 35 kg

Pinrang, Fajar.  Pengembangan ternak sapi di Kabupaten Pinrang main maju.  Sebelumnya hanya dikenal bayi tabung (perkawinan suntik).  Kini, pengembangan ternak sapi di daerah ini, mulai berhasil dengan program Inseminasi buatan (IB).  Hasilnya seekor sapi betina lahir dengan berat 35 kg dan dalam keadaan sehat.  
Ini cukup mengejutkan karena berat anak sapi hasil Inseminasi buatan (IB) tersebut seberat 35 kg.  Anakan sapi Bali dengan banteng jawa biasanya hanya 20 kg saja.  Tapi sapi hasil program inseminasi buatan (IB) ini justru seberat 35 kg, jelas Syamsul dari Dinas Peternakan Pinrang, emarin.  Program ini diujicobakan di Pallabessie, Kelurahan Salo, Kecamatan Watang Sawitto Pinrang.

Sementara peternak (pemilik sapi) Arnold Paturusi, yang memiliki lima ekor betina, menyatakan, ternaknya baru dua yang berhasil dengan program Inseminasi buatan (IB).  "Sebelumnya sapi kami hanya melahirkan anak sapi seberat 22 kg saja.  Tapi yang melahirkan kamis 31 januari sekira pukul 09.15 wita, mengejutkan kami karena lahir dengan berat 35 kg," akunya.  hal ini dibenarkan Syamsul yang iut memantau proses kelahiran sapi hasil inseminasi buatan ini. (nas/una).
Sumber : harian fajar, jum'at 1 februari 2013

Prospek Pengembangan Kerbau Rawa

Prospek Pengembangan Kerbau Rawa
Cukup Potensial di Kalsel
Info Peternakan. Prospek pengembangan ternak kerbau rawa cukup menjanjikan dan potensial, yakni dengan tersedianya lahan pengembangan peningkatan pendapatan petani ternak, perluasan lapangan kerja, dan memanfaatkan plasma nutfa.  “Namun untuk pengembangan kerbau di rawa diperlukan sentuhan teknologi dan konsep agro industry”, kata Wakil Menteri pertanian DR. Ir. Bayu Krisnamurthi ketika melakukan kunjungan kerja baru-baru ini.


Ketika ke Kabupaten Tanah Laut Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Gubernur dan BUpati Tanah Laut juga melakukan kawin suntik kerbau rawa.  Dihadapan para peternak, penyuluh petani dan pejabat, wakil Mentan berharap untuk pengembangan ternak kerbau rawa hendaknya ada pengusaha yang bersedia membuka agro industry, sebab konsumen tidak mempersoalkan daging sapi atau kerbau untuk bahan baku bakso.

Kerbau Rawa Kalsel Perlu Inseminasi

Kepala Dinas Peternakan Kalimantan Selatan DR. Ir. Hj. Maskamian Andjam MM lebih lanjut mengimbau para ahli dan pengusaha ternak untuk meningkatkan populasi kerbau rawa secara bertahap dengan cara inseminasi buatan.  Hal itu dikemukakan pada seminar dan workshop kerbau tingkat nasional di Banjarmasin baru-baru ini.

Kerbau rawa atau kerbau kalang salah satu genetic plasma nutfa daerah Kalimantan Selatan yang mempunyai cirri spesifik yakni bias berenang dan mencari makan sambil menyelam tatkala air dalam.  DInas Peternakan Kalimantan Selatan berupaya semampu mungkin untuk melakukan upaya perbaikan terhadap hewan ruminansia yang masih liar tersebut, antara lain relokasi, inseminasi dan pengembangan reproduksi.

Populasi kerbau rawa di Kalsel saat ini berkisar anatara 8000-9000 ekor, penambahan populasi sangat lamban (alami) karena peternak masih tradisional, kerbau masih liar, sulitnya persediaan pakan apabila musim kemarau atau ketinggian air pada musim hujan melebihi 2 meter.  Lambatnya peningkatan populasi akibat kelahiran bayi banyak yang mati saat dilahirkan akibat tenggelam (mati lemas) atau kelaparan.

Sementara itu pada loka karya kerbau Rawa di Banajrmasin pada arahannya Wakil Menteri Pertanian DR. Ir. Bayu Krisnamurthi menganjurkan agar peningkatan populasi dengan teknologi jangan dipaksakan apabila kurang tepat, lebih baik mencari alternative penyelamatan dan peningkatan populasi bertahap dengan metode bisnis model pariwisata artinya relokasi kawasan, ditata menarik dipadu restoran terapung dengan sajian menu khas lokal, atraksi lomba menangkap kerbau rawa.

Menyikapi anjuran ini Kepala Dinas Peternakan Propinsi Kalsel, Maskamian Andjam setuju, karena selain penyelamatan juga akan mendatangkan pendapatan daerah.  Mengingat wisata kerbau rawa mempunyai keunikan tersendiri dan tinggal menata kawasan dengan sedikit sentuhan namun tetap alami sesuai habitat kerbau rawa yang masil liar. Ayikkuswana

Sumber : Majalah Sinar Tani, Edisi 12-18 Oktober 2011 No.3426 Tahun XLII

Kondisi Peternakan Sapi Potong di Indonesia


Info Peternakan.  Indonesia saat ini masih mengalami kekurangan pasokan sapi bakalan karena pertambahan populasi tidak seimbang dengan kebutuhan nasional.  Usaha peternakan rakyat di Indonesia umumnya bersifat tradisional dan metode pengelolaannya masih menggunakan teknologi seadanya dan hanya bersifat sambilan.  Karena itu, hasil yang dicapai tidak maksimal.  Berikut ini beberapa permasalahan yang masih terjadi pada peternakan Indonesia.
 
a.       Produktivitas Rendah

Umumnya, usaha peternakan di Indonesia dilaksanakan sebagai usaha sambilan, disamping usaha pertanian lainnya seperti menanam padi di sawah.  Akbatnya, alokasi tenaga dan pikiran lebih banyak diarahkan pada usaha pokok daripada usaha sampingan.  Sapi-sapi tersebut umumnya dipelihara sebagai tabungan yang akan dijual sewaktu-waktu ketika peternak membutuhkan uang secara mendadak.  Akibatnya, sapi dijual dengan harga rendah karena waktu penjualan nya tidak direncanakan terlebih dahulu.

Faktor lain yang berpengaruh pada rendahnya produktivitas ternak adalah tidak jelasnya tujuan pemeliharaan sapi potong di Indonesia.  Di beberapa Negara maju, pemeliharaan sapi sudah diklasifikasikan dalam dua tujuan utama,  yaitu sebagai ternak potong dan ternak perah.  Di Indonesia, hanya pemeliharaan ternak perah yang sudah demikian jelas.  Sementara itu, peternakan sapi potong biasanya masih dicampuradukkan dengan penggunaan sapi sebagai ternak pekerja.  Akibatnya, sapi-sapi dijual untuk dipotong pada umur-umur yang relative tua karena tenaganya dibutuhkan untuk berbagai keperluan.  Bila sejak awal pemeliharaan sudah ditetapkan sebagai ternak potong, sapi tidak perlu dipelihara selama bertahun-tahun yang membutuhkan biaya pemeliharaan besar.

b.      Populasi Rendah

Seperti sudah disebutkan pada awal uraian, populasi ternak sapi di Indonesia cenderung statis.  Padahal, kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi cenderung meningkat seiring dengan semakin meningkatnya pengetahuan gizi masyarakat dan tingkat pendapatannya.  Akibatnya, sampai saat ini kebutuhan daging di dalam negeri masih harus dicukupi oleh pasokan dari luar negeri.  Statistik menunjukkan bahwa jumlah total populasi sapi local di Indonesia tidak pernah menembus angka 10 juta ekor.  Hal ini bertolak belakang dengan Negara tetangga, Australia, yang populasinya di atas 28 juta ekor (data tahun 2003).  Australia memang dikenal sebagai Negara yang lebih banyak sapinya dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Rendahnya populasi ternak sapi merupakan akibat dari rendahnya produktivitas sapi tersebut.  Tidak teraturnya program perkawinan, kurangnya perhatian pada metode pemberian pakan, pemotongannya yang dilaksanakan tidak sesuai aturan, dan mutasi ternak dari suatu wilayah ke wilayah lain yang tidak terkontrol merupakan beberapa penyebab rendahnya populasi sapi potong yang bisa diidentifikasi.

c.       Pasokan Sapi bakalan Tidak stabil

Secara umum, para peternak memperoleh sapi bakalan dari pasar-pasar tradisional di beberapa daerah.  Pada waktu-waktu tertentu terjadi kelebihan pasokan sapi bakalan, tetapi pada waktu lainnya justru terjadi kekurangan pasokan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan yang berlangsung secara musiman, misalnya hari-hari besar keagamaan ataupun upacara adat.  Pada bulan-bulan menjelang Hari Raya Idul Adha, terjadi kekurangan pasokan sapi bakalan karena para peternak ingin mendapatkan berkah tahunan berupa naiknya harga sapi potong di hari raya kurban itu.  Akibatnya, terjadi fluktuasi harga yang cukup tinggi anatar kedua kondisi di atas.  Pada akhirnya, usaha penggemukan sapi potong tidak bisa mencapai skala ekonomis.

Sebenarnya pemerintah sudah mengizingkan impor sapi bakalan dari laur negeri.  Namun, hanya para pengusaha besar yang mampu mengakses kebijakan ini mengingat prosedur dan biayanya yang tidak ringan.  Karena itu, tidak mengherangkan bila sapi-sapi bakalan yang dipelihara bukanlah sapi-sapi bakalan yang ideal dan hasil penggemukan tidak optimal.  Untuk memperbaiki kondisi perlu diupayakan perbaikan tatalaksana pemeliharaan serta perencanaan usahanya.

d.      Pasokan pakan Ternak Belum Mencukupi

Pasokan pakan ternak sapi berupa hijauan sangat tergantung pada musim.  Pada musim huja, jumlah pakan akan melimpah.  Sebaliknya, pada musim kemarau peternak akan kesulitan mendapatkan pakan.  Untuk mencukupi kebutuhan pakan (baik hijauan maupun konsentrat), peternak perlu menanam tanaman pakan ternak secara berkelanjutan.  Selama ini, kebanyakan peternak hanya mengandalkan tanaman pakan dai lahan-lahan kosong di sekitarnya.

e.       Pengetahuan tentang Teknologi Peternakan Masih Rendah

Di atas semua masalah itu, sebenarnya masalah utama yang terjadi pada hamper semua peternak di Indonesia adalah rendahnya pengetahuan tentang cara beternak yang benar.  Seringkali ditemui di lapangan, seorang peternak tidak mengetahui waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi potongnya.  Selain itu, pemberian pakan umumnya dilakukan secara trial and error, tanpa tahu kandungan gizi bahan pakan yang cukup.

Tidak bisa tidak, para peternak harus selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya dalam beternak.  Mereka juga tidak boleh ragu-ragu mempraktikkan pengetahuannya tersebut.  Tanpa itu, sector peternakan di Indonesia tidak akan pernah mengalami kemajuan yang berarti, atau bahkan semakin tenggelam.

Namun, pemilihan teknologi juga harus didasarkan pada kemampuan para peternak.  Penggunaan teknologi yang terlalu maju justru menyebabkan para peternak mengalami kesulitan karena culture shock.  Penggunaan teknologi secara tepat guna lebih mungkin diterapkan secara bertahap, misalnya penerapan seleksi bibit pada sapi local, control perkawinan, serta pengolahan dan penggunaan bahan pakan murah berkualitas.

f.       Perkawinan Tidak Terkontrol

Dalam peternakan yang dikelola secara tradisional, biasanya sapi-sapi dilepas bebas di suatu padang penggembalaan dan dikandangkan secara berkelompok tanpa memisahkan jantang dan betinanya.  Hal ini seringkali menyebabkan terjadinya perkawinan yang tidak diinginkan yang menghasilkan keturunan bermutu genetic rendah atau terjadi erosi genetic.  Akibatnya, produktivitas sapi local semakin rendah.

Sumber : Buku Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. oleh Ir.  Herry Soeprapto, MP & Ir. Zainal Abidin

Proses Pengolahan Daging Tikus menjadi Daging Ayam Palsu



Info Peternakan.  Pengolahan Daging Tikus menjadi Daging Ayam Palsu.  Apakah ini betul adanya?  Berikut akan saya tampilkan foto-foto cara pengolahannya (Sumber: Facebook, klik disini).
Foto Pertama, Tikus yang telah mati

 Foto Kedua, Proses pembakaran bulu dengan menggunakan alat Las.

 Foto Ketiga, Pengolahan daging; dicuci dan dipotong-potong diserupakan dengan bentuk daging ayam.

 Foto Keempat, Pemberian Bumbu Penyedap rasa.  Entah bumbu apa, mungkin bumbu Kaldu Ayam agar baunya seperti daging ayam.

Foto Kelima, Mempersiapkan daging digoreng.

 Foto Keenam, Hasil setelah daging digoreng.  Mirip bener dengan daging ayam ya?

Foto Ketujuh, Penyajian daging setelah digoreng.  Siap santap pake bumbu.

Foto kedelapan, Membedakan daging Tikus dengan Daging ayam.  Setelah kulit dikoyak akan tampak lemak yang begitu banyak pada permukaan daging dan kulit bagian dalam. 

Peran Lain Peternakan dalam Hutan Desa

Peternakan dalam hutan desa akan memiliki nilai yang tinggi apabila dalam pengelolaan ternak dengan sistem dikandangkan, selain pakan selalu tersedia melalui budidaya hijauan makanan ternak serta limbah tanaman pertanian maupun perkebunan, pemberiannya dapat terukur untuk masing – masing ternak, kotoran dari ternak dengan sistem di kandangkan dapat dengan mudah dukumpulkan untuk kemudian dijadikan pupuk bagi tanaman pertanian, dapat pula di olah menjadi produk biogas. Dengan pemanfaatan biogas bagi masyarakat di sekitar, maka pengeluaran untuk bahan bakar dapat ditekan, selain itu pemanfaatan kayu bakar untuk keperluan memasak dapat berkurang sehingga kelestarian hutan dapat terjaga, dengan mengurangi kegiatan penebangan pohon untuk kayu bakar bagi masyarakat sekitar.


Indonesia dalam beberapa tahun mendatang akan mengalami krisis bahan bakar sebagaimana dialami oleh negara lain, khususnya minyak tanah untuk penerangan dan memasak. Kotoran sapi jika difermentasi secara anaerob akan menghasilkan gas bio (metan) dalam jumlah banyak bersama CO2. Metan inilah yang dapat dibakar untuk keperluan penerangan dan memasak. Kontribusi gas bio bagi kehidupan manusia adalah dalam hal suplai bahan bakar, pupuk organik, masalah sanitasi, kesehatan lingkungan, dan kontrol polusi lingkungan. Oleh karena itu, sangatlah tepat bahwa kita sebagai insan peternakan perlu mengembangkan gas bio sebagai sumber energi terbarukan. Hal ini karena kotoran ternak merupakan sumber utama dalam produksi gas bio, serta menjadi salah satu penyebab utama polusi lingkungan, dan gangguan kesehatan, khususnya di daerah peternakan. Digest anaerobics merupakan salah satu cara atau proses untuk menghilangkan gangguan lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatan instalasi gas bio selain difokuskan pada penyediaan bahan bakar untuk keperluan penerangan dan memasak dapat pula diarahkan pada penanggulangan polusi dan pemanfaatan untuk produksi protein bagi ikan dalam integrated farming system.

Sumber : Makalah Kelompok Peternakan (Nur Ilham Akbar, Sri Lestari, Abdul Rijal Ali, Agustina Tagi, Irine Ike Praptiwi, Mey Angraeni Tamal, Syamsul Bahri.), Program Studi Sistem-sistem Pertanian, Program PascaSarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 2010.

Pengelolaan Hijauan Makanan Ternak dalam Hutan Desa

Tanaman yang terdapat pada hutan desa tidak selalu murni berupa kayu-kayuan, tetapi terpadu atau dikombinasikan dengan berbagai jenis tanaman lainnya, misalnya tanaman pertanian, tanaman perkebunan, tanaman pakan ternak, dan sebagainya.


Hijauan pakan ternak merupakan pakan asal tanaman (rumput, tanaman kacang – kacangan ataupun rambanan) yang dapat digunakan untuk memberi pakan hewan. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua macam bentuk, yakni hiajuan segar dan hijauan kering. Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting, sebab hijauna mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan, khususnya di Indonesia bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa, karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar. Budidaya hijauan makanan ternak merupakan salah satu bentuk pengembangan hutan desa, karena pengembangan hutan desa dapat dilakukan dengan 1). Penanaman tanaman – tanaman keras (tanaman hutan multiguna), tanaman perkebunan yang cocok dan tanaman buah -  buahan,  2). Penanaman sela penutup termasuk legum penyubur tanah, rumput gajah sebagai pakan ternak, 3). Penanaman palawija dan holtikultura.
Kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT) masih sulit dipenuhi oleh masing-masing peternak, karena hanya memiliki lahan sempit dan sangat tergantung pada musim. Apalagi dengan meningkatnya kepemilikan ternak misalnya sapi, peternak akan menghabiskan waktu untuk pemeliharaan dan pengelolaan sapi, tidak memiliki waktu lagi untuk menyediakan pakan hijauan.  Dengan masih banyaknya lahan tidur, tanah-tanah sela di antara pokok tanaman perkebunan besar maupun hutan milik Perhutani, jerami padi/jagung di daerah produksi yang belum dimanfaatkan, limbah industri, seperti kulit gabah, dedak padi/ bekatul dari penggilingan padi, dedak atau bungkil jagung dari industri minyak jagung, cangkang kernel dari industri minyak sawit, kulit coklat, dan sebagainya, yang semuanya dapat dimanfaatkan menjadi makanan ternak. tetapi tentu saja harus diproses lebih lanjut yang memerlukan teknologi dan manajemen yang handal.
Tujuan dari pengembangan hutan desa ini dimaksudkan untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas lahan, serta kelestarian sumber daya alam agar dapat memberi manfaat yang sebesar – besarnya bagi masyarakat, sehingga kesejahteraan hidup meningkat.
Manfaat lain peran peternakan bagi hutan desa dari pengembangan hutan desa dengan budidaya hijauan makanan ternak dilihat dari segi sosial ekonomi meliputi mampu meningkatkan pendapatan masyarakat tani di pedesaan karena dengan hijauan makanan ternak kebutuhan ternak akan pakan dapat tercukupi secara terus menerus untuk pertumbuhan dan pertambahan bobot badan yang pada akhirnya ternak tersebut dihargai dengan harga yang cukup tinggi, dapat memanfaatkan secara optimal dan lestari lahan yang tidak produktif untuk usaha tanaman pakan, tanaman pakan seperti legum dan rumput tidak terlalu membutuhkan lahan yang kaya unsur hara seperti tanaman lain, tetapi dengan kombinasi limbah ternak berupa kotoran dan diolah menjadi pupuk maka dapat meningkatkan kualitas tanah tersebut. Rumput-rumputan jenis King Grass dan Setaria digunakan untuk tanaman penguat teras dan untuk memenuhi kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT) pemilik lahan. Manfaat lain  dapat membantu dalam keanekaragaman hasil pertanian yang diperlukan masyarakat, karena dengan budidaya tanaman pangan, limbah dari hasil pertanian tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah dari peternakan berupa kotoran akan menjadi pupuk dengan kualitas tinggi karena berupa pupuk organik tanpa merusak struktur tanah dan lingkungan.
Disamping itu hijauan pakan ternak dapat berfungsi ganda, selain sebagai pakan, juga sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Manfaat lain dari hijauan makanan ternak adalah sebagai tanaman konservasi lahan baik sebagai tanaman penguat teras di lahan miring maupun sebagai tanaman reklamasi pada tanah yang rusak, sebagai tanaman penutup di tanah – tanah perkebunan.
Kebutuhan ternak akan hijauan dalam hal ini ternak sapi adalah 10% dari bobot badan, pada umumnya peternak memliki ternak sapi dengan bobot 250 – 300kg, maka kebutuhan akan hijauan sebesar 25 – 30 kg, dan untuk masyarakat yang tinggal di desa pada umumnya memiliki ternak sebagai usaha sampingan sehingga hanya memiliki 2 – 3 ekor tiap kepala keluarga. Sedangkan hijauan makanan ternak yang dapat dihasilkan dalam 1 ha sebanyak 400 ton untuk rumput gajah.

Sumber : Makalah Kelompok Peternakan (Nur Ilham Akbar, Sri Lestari, Abdul Rijal Ali, Agustina Tagi, Irine Ike Praptiwi, Mey Angraeni Tamal, Syamsul Bahri.), Program Studi Sistem-sistem Pertanian, Program PascaSarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 2010.

Peran Peternakan dalam Hutan Desa



Menurut peraturan menteri kehutanan nomor P.49/Menhut II/2008, kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap, hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah, sedangkan hutan desa merupakan hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani ijin/hak. Pengertian dari pada desa itu sendiri merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan pengembangan hutan desa diharapkan desa – desa yang sebagian besar wilayahnya adalah kawasan hutan dapat menghasilkan pendapatan asli desa untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Secara umum hutan desa merupakan hutan negara yang berada di dalam wilayah  suatu desa, dimanfaatkan oleh desa untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Tanpa adanya upaya peningkatan kualitas ataupun bentuk pelestarian dari hutan desa tersebut maka hutan tersebut tidak memberikan arti yang lebih bagi masyarakat sekitar. 
Pemanfaatan kawasan pada hutan antara lain melalui beberapa kegiatan salah satunya adalah budidaya hijauan makanan ternak. Integrasi peternakan dan kehutanan dalam bentuk budidaya hijauan makanan ternak merupakan salah satu bentuk dari pemberdayaan masyarakat setempat, dimana menurut peraturan menteri kehutanan nomor P.49/Menhut II/2008, pemberdayaan masyarakat setempat merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat setempat untuk mendapatkan manfaat sumberdaya hutan secara optimal dan adil melalui pengembangan kapasitas dan pemberian akses dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Kriteria kawasan hutan yang dapat ditetapkan sebagai areal kerja hutan desa adalah hutan lindung dan hutan produksi yang belum dibebani hak pengelolaan atau ijin pemanfaatan dan berada dalam wilayah administrasi desa yang bersangkutan. Kriteria tersebut berdasarkan rekomendasi dari Kepala KPH atau kepala dinas kabupaten/kota yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang kehutanan.
Dengan adanya integrasi dengan bidang peternakan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani yang tinggal di kawasan hutan tersebut, karena dengan integrasi hutan desa di kembangkan untuk dapat memberikan hasil pada peternakan demikian juga sebaliknya peternakan dapat memberikan kontribusi kepada hutan desa.
Budidaya hijauan makanan ternak pada hutan desa merupakan salah satu bentuk pemanfaatan kawasan, karena dengan budidaya hijauan makanan ternak maka telah dilakukan kegiatan untuk memanfaatkan ruang tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi secara optimal dengan tidak mengurangi fungsi utamanya.

Sumber : Makalah Kelompok Peternakan (Nur Ilham Akbar, Sri Lestari, Abdul Rijal Ali, Agustina Tagi, Irine Ike Praptiwi, Mey Angraeni Tamal, Syamsul Bahri.), Program Studi Sistem-sistem Pertanian, Program PascaSarjana Universitas Hasanuddin Makassar, 2010.

Popular Posts